KABUPATEN LEBAK, ORBITBANTEN. CO. ID– Pembangunan Bendungan Pasir Kopo yang direncanakan akan meliputi 5 Desa yakni Desa Cisieumet, Cisieumet Raya, Nayagati, Margawangi, dan Sangkanwangi, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak mendapatkan penolakan sedikitnya dari 8.000 warga sekitar.
Penolakan pembangunan bendungan pasir kopo yang merupakan prioritas pembangunan Tahun Anggaran 2020-2024 tersebut dilakukan warga, karena rencana pembangunan bendungan yang digarap oleh Kementerian PUPR melalui BBWSC3 itu dinilai hanya akan merugikan masyarakat sekitar.
Menanggapi hal tersebut, Asda 1 Pemkab Lebak Alkadri mengatakan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak sendiri akan memperjuangkan aspirasi masyarakat tersebut dengan menyurati Pemerintah Pusat (Pempus) untuk meninjau ulang rencana pembangunan bendungan tersebut.
” Aspirasi masyarakat itu akan ikut kami perjuangkan karena ini menyangkut hajat hidup masyarakat kami(Lebak) yang kehidupannya sudah aman, nyaman , tentram dan damai.
Pemkab dalam hal ini Ibu Bupati akan menyurati pemerintah pusat untuk meninjau ulang rencana pembangunan Bendungan dimaksud,” kata Alkadri, Selasa (22/9/2020).
Alkadri mengungkapkan, pembangunan bendungan pasir kopo sendiri akan berdampak langsung kepada masyarkaat, khususnya tantanan kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya yang telah melekat kepada masyarakat.
“Kalau pembangunan jadi dilaksanakan tentu dampak yang akan diterima masyarakat sangat banyak. Pertama rasa kesedihan yang dirasakan mereka karena harus pindah dari tanah kelahirannya, tanah nenek moyang mereka turun temurun yang ikut berjuang untuk negeri ini,” katanya.
“Yang kedua tatanan kehidupan sosial ekonomi dan budaya yang sudah mereka jalani akan hilang. kehidupan yang selama ini sudah nyaman, aman, tertib dan damai ini akan berubah karena di tempat yang baru belum tentu mereka menemukan dan merasakan kembali, dan itu tidak bisa dinilai dengan angka rupiah,” tambahnya.
Dirinya berharap, pembanguanan bendungan pasir kopo tersebut dapat dievaluasi kembali dengan mempertimbangkan berbagai dampak yang dapat dirasakan oleh masyarakat.
” Harapan kami tentunya sama dengan harapan masyarakat Bendungan ini tidak dilanjutkan dan tentunya kami dari daerah akan mencarikan solusi yang lain untuk pemerintah pusat, ” harapnya.
Sementara itu, Ustaz Yudi, salah satu tokoh masyarakat Desa Cisieumet mengatakan, pembangunan bendungan Pasir Kopo akan berdampak pada budaya, sosial dan perekonomian warga.
“Perekenomian pun pasti terdampak. Kita semua warga Desa Cisimeut sepakat menolak pembangunan bendungan pasir kopo,”kata Yudi.
Alasan lain menurut Yudi, Desa Cisimeut sudah lama dikenal sebagai salah satu daerah atau desa pejuang yang turut andil dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Terutama dalam pembangunan di Banten.
“Ini sama saja mengubur semua nilai perjuangan,”tuturnya.
Yudi mengaku juga telah mendatangi pemerintah Kabupaten Lebak agar mengusulkan kepada pemerintah pusat pembatalan pembangunan bendungan pasir kopo.
“Kita sudah datangi pemkab dan diterima Asda I Pemkab L Lebak, Alkadri. Semua aspirasi masyarakat soal bendungan kopo sudah kita sampaikan,”katanya.
Untuk diketahui, Bendungan Pasir Kopo termasuk proyek bendungan prioritas TA. 2020-2024 untuk didanai melalui skema KPBU, dan bendungan ini direncanakan memiliki volume tampungan efektif sebesar 166,21 juta m3 dengan manfaat untuk mengairi irigasi seluas 21.350 Ha, suplai air baku sebesar 3800 lt/detik, PLTA sebesar 20,64 MW, dan pengendali banjir sebesar 288,775 m3/s yang direncanakan mulai beroperasi pada TA. 2025.
(/RED)



































