Oleh : Dail Ma ruf, M.Pd
Serang, 21 Juni 2021
BAGAIMANA FENOMENA DEKADENSI MORAL DI KALANGAN PELAJAR ?
Pendidikan di Indonesia yang pada umumnya masih berorientsi pada aspek kognitif atau kecerdasan intelektual alias pengetahuan saja, telah melahirkan manusia yang secara otak cerdas dan berpengetahuan, namun secara perilaku atau moral tidak seperti yang diharapkan.
Kecerdasan dalam diri seseorang dapat saja diberikan dalam dunia pendidikan, baik pendidikan formal atau non formal, baik di sekolah maupun di pesantren. Namun penanaman nilai nilai akhlaqul karimah atau budi pekeri luhur belum tentu ia dapatkan. Sehingga buahnya adalah banyak kaum terpelajar yang terjebak dalam tindakan yang bukan hanya melanggar hukum namun juga norma agama dan sosial sepeti perilaku pelajar yang terlibat tawuran, narkoba, judi, dan seks bebas.
Di Barat dan di negara- negara maju yang dijadikan tujuan dari pendidikan adalah membentuk karakter. Karakter yang diharapkan adalah karakter positif seperti jujur, kreatif, disiplin, kerja keras dan pantang menyerah. Sehingga outputnya adalah manusia yang tidak menggantungkan diri pada otak tapi kepada skill, dan mereka lebih punya kesiapan saat memasuki dunia kerja.
Bila pendidikan di Indonesia ingin baik, maka STOP PENDIDIKAN KOGNITIF, yang lebih mengutamakan aspek otak atau kecerdasan saja, dan saatnya berorientasi pada karakter dan life skill. Tidak perlu banyak mata pelajaran di dunia pendidikan cukuplah lima pelajaran : berhitung, bahasa, seni, sains, dan olahraga. Lantas pelajaran agama dimana? Agama terintegrasi dalam lima pelajaran tadi. Artinya pelajaran apapun harus dikaitkan dengan konsep agama, sehingga tidak terjadi sekularisme dalam pendidikan. Dimana agama hanya sebatas keyakinan pribadi sedangkan perilaku dan kehidupan sosial jangan dikaitkan dengan agama yang dianutnya. Inilah akar masalah dari ketidakberesan kurikulum pendidikan di Indonesia. Perlu Reformasi Sistem Pendidikan Nasional.
BAGAIMANA CARA PENANAMAN PENDIDIKAN MORAL HOLISTIK ?
Allah SWT dalam salah satu firmannya menegaskan bahwa :
“Sungguh telah ada pada diri utusan Allah (Muhammad SAW) itu suri teladan yang baik”
Dan dalam hadits shahih dijelaskan bahwa tujuan dari diutusnya Muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan akhlaq.
“Dan sesungguhnya Aku diutus (kepadamau) untuk menyempurnakan akhlaq”
Dua dalil di atas selaras dengan pendidikan yang berhasil memajukan berbagai negara maju seperti Jepang, Inggris, Amerika, Australia, dan negara eropa lainya. Dimana pendidikan di negara tersebut tidak lagi menjadikan kecerdasan sebagai tujuan, namun moral dan keahlian sebagai orientsi.
Jepang berhasil menjadi negara yang memproduksi banyak jenis alat transportasi baik darat, laut, maupun udara, alat komunikasi modern seperti Hp, Laptop , Tablet dan lainnya, karena pendidikan yang diterapkan di negara tersebut adalah pendidikan moral atau karakter.
Kalau kita jujur, apa yang dilakukan Rasulullah Muhammmad SAW dalam mendidik ummatnya, maka yang beliau lakukan adalah pertama menguatkan aqidahnya, lalu akhlaq, dan baru keterampilan dan ilmu lainnya.
Beda dengan di kita Indonesia, akidah kurang didalami, akhlaq pun sekedar formalitas dan tidak menjadi budaya bangsa, malah mengejar kepada keunggulan ilmu pengetahuan teknologi, sehingga jangan heran bila banyak orang pintar tapi minterin alias curangi yang bodoh. Banyak pejabat malah korupsi uang rakyat.
Dan cara yang efektif untuk penerapan pendidikan moral yang holistik adalah dengan bergerak bersama di semua lini dan sektor. Mulai dari pendidikan keluarga, lingkungan, sekolah, pasar, tempat wisata, teminal, bandara dan semua sektor publik harus membudayakan pendidikan moral dan karakter baik. Misalnya mengantri. Sepintas sepele namun sarat makna. Dalam budaya mengantri tampak penerapan nilai kedisiplinan, kesabaran, toleran, efektif dan efesiaen dan tanggung jawab.
Kedua untuk dapat berhasilnya pendidikan moral yang holistik, yang dibutuhkan adalah keteladanan, maka sebelum para guru, atau dosen mengajarkan moral baik kepada muridnya, maka pribadi pendidik harus sudah melaksanakannya, sehingga apa yang terucap sama dengan perilakunya, dan murid akan menjadikannya sebagi teladan dalam kehidupan. Maka akan segera terjadi transformasi budaya. Dan Pendidikan Indonesia akan sejajar dengan negara-negara maju lainnya. Aamiin. (*/).






































