
LEBAK,- Gelombang tinggi yang melanda wilayah Banten Selatan mengakibatkan kapal yang ditumpangi rombongan mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) serta warga negara asing (WNA) tenggelam. Akibat kejadian tersebut, 32 orang selamat, sementara dua orang juru masak meninggal dunia, dan dua orang nelayan hilang.
Informasi yang dihimpun Orbit Banten Jumat (20/7/2018). Sekira pukul 07.30 WIB Kamis (19/7) kemarin, KM Barokah yang ditumpangi enam orang nelayan dihantam ombak setinggi lima meter. Nelayan lain yang berada di dekat lokasi kemudian melakukan upaya pertolongan dengan menggunakan perahu kincang. Namun, nahas kedua perahu tersebut tenggelam dan mengakibatkan dua orang hilang, sedangkan 10 orang lainnya berhasil selamat.
Baca juga :
Tim SAR Gabungan Lakukan Pencarian Korban Kapal Tenggelam
Pada pukul 14.10 WIB, kecelakaan laut kembali terjadi di tempat kejadian perkara (TKP) yang sama. Kapal Orange yang ditumpangi mahasiswa dan WNA asal Amerika dan Thailand tersebut tenggelam. Akibatnya, dua orang juru masak meninggal dunia. Sementara dua anak buah kapal (ABK) dan 20 orang mahasiswa dari IPB dan Universitas Sebelas Maret (UNISMA) Solo selamat.
Kronologis kejadian bermula, saat rombongan dari pusat studi satwa primata IPB tersebut baru saja pulang setelah melakukan penelitian di Pulau Tinjil. Kapal yang ditumpangi peneliti tidak bisa masuk ke dermaga Muara Binuangeun, karena terhalang ombak besar.
Kapolres Lebak AKBP Dani Arianto membenarkan, musibah tenggelamnya dua kapal nelayan dan satu kapal rombongan peneliti dari IPB. Akibat kejadian tersebut, dua orang meninggal dunia, dua orang hilang, sementara 32 orang lainnya selamat. Dua warga yang meninggal dan hilang merupakan warga Kabupaten Lebak.
“Dua korban meninggal merupakan warga Lebak. Untuk itu, saya langsung ke sini untuk mengecek kondisi korban dan memastikan pencarian nelayan yang hilang terus dilaksanakan,” ungkapnya.
Dia mengungkap, korban tenggelam di Perairan Banten Selatan tujuh diantaranya merupakan warga negara asing. Mereka ikut rombongan melakukan penelitian tentang populasi Primata di Pulau Tinjil. Di pulau tersebut, peneliti melakukan kegiatan selama 15 hari dan selanjutnya kembali ke basecamp di Cikeusik.
“Para korban langsung dibawa tim penyelamat dan masyarakat ke Puskesmas Wanasalam,” terangnya.
Kapolres mengimbau kepada nelayan dan masyarakat di pesisir Banten Selatan untuk tetap hati-hati dan waspada ketika beraktivitas di laut. Gelombang tinggi di wilayah Banten Selatan akan membahayakan keselamatan para nelayan dan masyarakat.
“Korban yang hilang masih kita lakukan pencarian. Kita juga minta kepada Bhabinkamtibmas untuk memberikan imbauan agar nelayan dan masyarakat waspada, karena gelombang cukup tinggi,” tegasnya. (Deni).

































