Lestarikan Budaya Tradisional, Warga Ciburuy Gelar Festival Panggal

Sejumlah peserta sedang beradu Panggal (Gangsing) yang digelar Pemdes Ciburuy. (Foto/Ali).

CURUGBITUNG,- Demi melestarikan dan mengingatkan budaya tradisional terhadap generasi muda, Pemerintah Desa (Pemdes) Ciburuy, Kecamatan Curugbitung, Kabupaten Lebak, Banten menggelar festival adu Panggal (Gangsing), Minggu (26/8/2018) kemarin.

Panggal atau Gangsing merupakan salah satu permainan tradisional yang keberadaannya saat ini hampir punah. Ajang adu Panggal ini diikuti sekitar 230 peserta. Kegiatan tersebut mampu menarik minat masyarakat. Pasalnya, kegiatan ini digelar dalam suasana HUT RI ke-73 sehingga festival adu Gangsing ini juga diikuti oleh peserta dari Desa lain.

Kepala Desa (Kades) Ciburuy Rudi Sanusi mengatakan, saat ini permainan panggal sudah banyak ditinggalkan. Pihaknya mengapresiasi warga masyarakatnya yang berinisiatif menggelar kegiatan tersebut sebagai upaya pelestarian budaya tradisional

“Festival lomba Panggal atau Gangsing merupakan salah satu kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap setahun sekali, terutama pada peringatan HUT Kemerdekaan RI,” kata Rudi saat ditemui Orbit Banten, diruang kerjanya, Senin (27/8/2018).

Ia menambahkan, kegiatan ini bertujuan selain untuk memeriahkan HUT RI, kegiatan ini juga untuk melestarikan kembali seni tradisional di masyarakat. 

“Alhamdulilah, pelaksanaannya sangat meriah, bahkan para pesertanya bukan hanya dari desa Ciburuy, namun ada juga yang datang dari luar desa Ciburuy,” ujarnya.

Pihaknya berharap, kegiatan ini menjadi motivasi bagi masyarakat guna menjalin kebersamaan dan kekompakan. 

“Sehingga kedepan desa Ciburuy jauh lebih maju dibandingkan dengan desa yang lainya,” harapny.

Senada diungkapkan Ketua Panitia Kegiatan Festival Panggal Pamirudin, kegiatan lomba Panggal atau Gangsing merupakan salah satu rangkaian kegiatan lomba yang di selenggarakan pemerintahan desa dalam rangka memperingati HUT RI Ke 73. 

“Tujuannya, selain memperingati HUT RI Ke 73, kegiatan ini juga untuk menjalin tali silaturahmi dengan masyarakat serta melestarikan permainan tradisional yang saat ini hampir musnah seiring  kemajuan jaman,” timpalnya 

Ia menambahkan, permainan panggal merupakan permainan yang saat ini masih melekat di masyarakat Curugbitung. Hal ini terbukti jumlah peserta mencapai 230 peserta. Untuk memilih pemenang dalam lomba nantinya, masing – masing peserta akan dinilai oleh dewan juri. 

“Setiap peserta yang mampu memutar panggal lebih lama, itu yang akan ditunjuk sebagi pemenang lomba,” imbuhnya. 

Bagi peserta yang menang, sambung dia, mereka berhak menerima hadiah yang telah disediakan oleh pihak panitia.

“Untuk juara pertama sebesar Rp700 ribu, untuk juara dua Rp500 ribu. Sementara untuk juara ketiga sebesar Rp300 ribu,” paparnya. (Ali)