
LEBAK,- Himpunan Mahasiswa Islam – Majelis Penyelamat Organisasi (HMI-MPO) Cabang Lebak menggelar stadium general (kuliah umum,-red) dalam rangka memotivasi gerakan-gerakan mahasiswa di Lebak dalam menyikapi berbagai persoalan keumatan dan keindonesaan. Kegiatan yang dimulai pukul 14.00 WIB yang merupakan rangkaian pelantikan pengurus HMI-MPO Cabang Lebak periode 2019-2020 ini digelar di aula Andhika Resto, Kelurahan Cijoro Pasir, Kecamatan Rangkasbitung, Sabtu (18/05/2019).
Stadium general yang mengambil tema “reposisi gerakan mahasiswa untuk membangun umat” ini diikuti ratusan mahasiswa dan para alumni dari berbagai organisasi (OKP) nasional maupun primordial dengan menghadirkan Anggota KPU Provinsi Banten Agus Sutisna, Pimpinan Ponpes Nurul Faizin Ahmad Fauzi, Plt Sekretaris KAHMI Lebak Ucu Juhroni sebagi pembicara.
Lihat Video :
Melalui kegiatan stadium general tersebut diharapkan para mahasiswa dapat menumbuhkan semangat dan kepedulian sebagai agen of change melalui nalar keilmuan yang mampu menjawab tantangan dan persoalan sosial politik yang dihadapi masyarakat saat ini.
Ahmad Fauzi yang juga sebagai mantan Sekjen PB HMI menjadi pembicara pertama mengatakan, bahwa mahasiswa saat ini harus bisa memosisikan gerakanya, apakah mereka itu sebagai gerakan intelektual, gerakan moral atau gerakan spiritual sehingga gerakan mahasiswa memiliki identitas yang jelas.
Dengan ketiga terminologi gerakan ini maka mahasiswa di Lebak memiliki ruang-ruang publik sebagai sarana untuk meningkatkan intelektualnya.
Senada diungkapkan Ucu Juhroni, gerakan mahasiswa di Lebak saat ini, menurutnya tengah mengalami stagnasi gerakan bahkan cenderung acuh dan lebih nyaman dengan komunitasnya. Ia berharap, mahasiswa kedepan bisa menumbuhkan jiwa kompetitif serta kepekaannya terhadap dinamika persoalan-persoalan sosial yang dihadapi dewasa ini.
Sementara itu, Agus Sutisna yang berkesempatan menjadi pembicara ketiga mengungkapkan, mahasiswa harus bisa menempatkan dirinya berada ditengah-tengah pusaran dinamika persoalan sosial politik. Sebagai bagian dari civil society (masyarakat madany,-red), menurut Agus, mahasiswa harus berada diantara kekuasaan dan masyarakat (civil,-red).
Sehingga kebawah (masyarakat, rakyat) harus berperan sebagai agen of empowrment (pemberdayaan) yang memberi pencerahan. Sementara ke atas (kekuasaan, negara) mahasiswa harus tampil sebagai woch dogs yang memberikan kritik untuk mengingatkan penguasa terhadap berbagai kebijakan-kebijakan yang salah. (Deni).





































