LEBAK – Potensi konflik sosial menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 dapat mengganggu program percepatan pembangunan yang dilaksanakan Pemkab Lebak. Untuk itu, Kantor Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) mengajak semua elemen masyarakat mewaspadai ancaman konflik yang dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.
Baca juga:
KPUD Banten Apresiasi Partisipasi Pemilih di Lebak
Anggaran MTQ Dituding Tidak Rasional
Fantastis, Anggaran MTQ XXXVI Capai Rp2,3 Miliar
Pilkada Lebak akan digelar pada 27 Juni 2018. Tahapan pesta demokrasi lima tahunan telah dilaunching Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Lebak. Bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Lebak telah intens melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Mereka ingin merebut simpati masyarakat dan menjadi pemenang pada pilkada serentak tahun depan.
Kepala Kesbangpolinmas Lebak Yusuf mengatakan, pemerintah daerah melalui kantor Kesbangpolinmas ingin pilkada Lebak berjalan aman, lancar, dan kondusif. Untuk itu, Kesbangpolinmas menyosialisasikan
pencegahan dan penanganan konflik sosial menjelang pilkada serentak yang akan digelar tahun depan.
“Saya berharap, pilkada Lebak 2018 tidak mengakibatkan masyarakat terkotak-kotak. Karena itu, kita minta kepada para calon kepala daerah memberikan pendidikan politik yang sejuk dan damai kepada pendukungnya,” kata Yusuf usai sosialisasi pencegahan dan penanganan konflik sosial di gedung Bangkit, Rangkasbitung, Selasa (21/11).
Kegiatan sosialisasi tersebut diikuti oleh 100 orang peserta yang terdiri dari berbagai instansi, mulai dari Bhabinkamtibmas, Babinsa, tokoh masyarakat, dan tokoh ormas dari 28 kecamatan di Lebak.
“Tujuan sosialisasi ini dalam rangka menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan untuk mengantisipasi dan penangan konflik sosial dalam menghadapi pelaksanaan pilkada serentak tahun 2018,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Yusuf mengatakan, pelaksanaan pilkada yang aman, damai dan kondusif tidak hanya jadi tanggungjawab penyelenggara pemilu dan pihak kemanan semata. Tetapi menjadi tanggungjawab masyarakat Lebak secara keseluruhan, sehingga akan menciptakan suasana pemilu yang aman, tertib, dan menghasilkan pemimpin yang prorakyat.
“Konflik yang terjadi menjelang dan setelah pilkada diakibatkan beberapa faktor, diantaranya faktor ekonomi, kultur sosial, politik, dan faktor lainnya,” ujarnya.(Deni Sopandi)



































