LEBAK,- Sejumlah mahasiswa perguruan tinggi yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI) berorasi di depan kantor Bupati Lebak, Banten, Kamis (6/12/2018).
Mereka menuntut agar pemangku kebijakan di Lebak lebih peka terhadap isue kekerasan perempuan dan anak terutama yang tinggal di pelosok.
“Banyak perempuan dan anak-anak yang menjadi korban kekerasan dan mirisnya mereka ini tidak mendapat perlindungan hukum dari pemerintah,” kata koordinator aksi Sandi Maulana, dalam orasinya di depan kantor Bupati Lebak, Kamis (6/12/2018).
Hal ini terjadi, lanjut Andi, selain minimnya sosialisasi pemerintah Kabupaten Lebak dibidang perlindungan hukum. Juga karena ketidak tahuan kemana mereka harus melaporkan dan berlindung terutama warga yang berada pelosok.
“Kami minta pemerintah menyediakan tempat pelayanan dan pengaduan disetiap pelosok-pelosok desa yang jauh dari pusat kota untuk mencegah adanya diskriminasi anak dan perempuan,” ujarnya.
Selain menyoroti soal kekerasan terhadap perempuan dan anak, aksi GMNI yang dilakukan pada momentum HUT ke-190 Kabupaten Lebak ini juga menyoroti isu objek pariwisata yang banyak tercemar oleh limbah industri serta beberapa isu sosaial lainya.
Aksi yang berlangsung lebih dari dua jam ini berjalan tertib karena mendapat pengawalan ketat dari puluhan personil kepolisian dari Polres setempat. (Deni).






































