LEBAK – Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Lebak mencatat kurang lebih 150 kasus HIV/AIDS (human immunodeficiecy virus infection and acquired immune deficiency syndrome) sejak tahun 2006 sampai dengan 2017.
“Sepanjang tahun 2017 ada 41 kasus HIV/AIDS. Sementara untuk awal tahun 2018 ini kita belum menerima laporan. Karena itu, sebagai langkah preventif kita terus berkomunikasi dengan Dinkes untuk gencar melaksanakan penyuluhan bahaya narkoba dan HIV/AIDS terutama bagi kalangan pelajar dan generasi muda,” kata Sekretaris 2 KPAD Lebak, Firman Rahmutallah kepada Orbit Banten, Rabu (7/2) kemarin.
Firman mengatakan, tingginya kasus penularan HIV/AIDS tersebut mengindikasikan bahwa penderita HIV/AIDS perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak agar penyebaranya bisa ditekan. Pihaknya juga akan memberikan perhatian khusus kepada orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).
“Kami mengimbau kepada orang yang rentan terindikasi virus HIV/AIDS, agar memeriksakan dirinya. Apalagi, di RSUD Adjidarmo Rangkasbitung ada klinik Seroja khusus untuk memeriksakan HIV/AIDS gratis. Kalau ODHA-nya sendiri tidak mampu mengakui mengidap AIDS, maka akan sulit dan penularannya akan sangat cepat,” katanya.
Menurutnya, penyebaran virus HIV/AIDS tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya karena hubungan seks bebas, penggunaan jarum suntik, penyalahgunaan narkoba, dan keturunan.
Pihaknya terus berupaya melakukan pencegahan penularan HIV/AIDS di Lebak. Salah satunya melakukan VCT disejumlah lokasi yang rawan terjadinya penyebaran virus HIV/AIDS,”
“Tahun ini kita belum melakukan mobile VCT untuk menscreening pada kelompok- kelompok beresiko. Selain itu di 2018 kita programkan seluruh ibu hamil untuk di cek HIV/AIDS dan Hepatitis,” ujarnya.
Kata dia, penderita HIV/AIDS perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak. Salah satunya, yakni berupaya memberikan bantuan obat penyembuh dan makanan tambahan gizi.
“Penderita juga harus tepat waktu dalam mengkonsumsi obat Anti Retro Viral (ARV) dan sejauh ini kebutuhan ARV tercukupi,” katanya.
Terpisah Ketua MUI Lebak Pupu Mahpudin mengaku prihatin atas ditemukannya kasus HIV/AIDS di Kabupaten Lebak. Meskipun MUI terus menyosialisasikan bahaya HIV/AIDS kepada masyarakat melalui berbagai ceramah maupun pengajian disetiap pelosok kampung.
“Kami terus memberikan pengertian dan sosialisasi kepada para orang tua untuk terus mengawasi perilaku anak-anak usia puber agar tidak terjerumus pada pergaulan yang negativ, seperti sek bebas dan penyalahgunaan narkoba,” katanya. (Ali).



































